DKPPKB Sulbar Sinkronkan Desa Siaga TBC dan PASTI PADU, Perkuat Upaya Eliminasi TBC

Mamuju, SorotanPena.Id – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat menggelar pertemuan koordinasi dalam rangka sinkronisasi lokus Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) dengan desa lokus Program PASTI PADU. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring, Selasa (6/4/2026).

Pertemuan tersebut diikuti oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari seluruh kabupaten se-Sulawesi Barat, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat kabupaten, serta para pengelola program TBC, promosi kesehatan, kesehatan keluarga, dan tata kelola di lingkup Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2PKL) DKPPKB Sulbar, dr. Muh. Ihwan, yang menekankan pentingnya penguatan strategi berbasis wilayah dalam percepatan penanggulangan TBC.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung visi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam mewujudkan Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera, khususnya melalui pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.

Dalam forum tersebut, disepakati bahwa lokus Desa Siaga TBC akan disinkronkan dengan desa lokus Program PASTI PADU guna memastikan intervensi yang lebih terarah, terintegrasi, dan berdampak langsung di masyarakat.

Berdasarkan data program, estimasi kasus TBC di Sulawesi Barat pada tahun 2026 mencapai sekitar 5.002 kasus. Sementara pada tahun 2025, dari estimasi 5.051 kasus, sebanyak 4.037 kasus berhasil ditemukan atau sekitar 80 persen dari target. Capaian ini masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi target nasional eliminasi TBC.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa pengendalian TBC merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah pusat di bidang kesehatan yang harus didukung secara maksimal oleh daerah.

“Penanganan TBC menjadi prioritas karena berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor, penguatan deteksi dini, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengobatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan Desa Siaga TBC diarahkan pada percepatan penemuan kasus, peningkatan keberhasilan pengobatan, serta pemberian terapi pencegahan TBC bagi kelompok berisiko.

Melalui sinkronisasi ini, diharapkan intervensi program di tingkat desa dapat berjalan lebih efektif, sekaligus mempercepat upaya eliminasi TBC di Sulawesi Barat.

DKPPKB Sulbar juga menekankan pentingnya peran kader, pemerintah desa, serta fasilitas pelayanan kesehatan dalam memastikan masyarakat memiliki akses yang mudah dan merata terhadap layanan TBC. (Adv/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *