Mamuju, SorotanPena.Id – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat merilis capaian program penanggulangan Tuberkulosis (TBC) Triwulan I Tahun 2026. Hasilnya menunjukkan progres positif pada aspek pengobatan, namun masih menghadapi tantangan pada sisi deteksi dan pencegahan.
Upaya ini sejalan dengan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Pemerintah, yang tidak hanya berfokus pada penguatan layanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), tetapi juga mencakup pemeriksaan kesehatan gratis (CKG) hingga ke sekolah-sekolah serta percepatan pengentasan TBC di masyarakat. Selain itu, langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi Panca Daya Provinsi Sulawesi Barat dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul dan berkarakter, sesuai visi pembangunan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.
Berdasarkan data yang dirilis, capaian pengobatan TBC di Sulawesi Barat menunjukkan hasil menggembirakan. Tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC resisten obat (TB RO) mencapai 100 persen. Sementara itu, tingkat enrollment pasien TBC sensitif obat (TB SO) mencapai 86 persen, yang menandakan mayoritas pasien telah mendapatkan akses pengobatan yang memadai.
Namun demikian, pada indikator hulu—yakni deteksi dan pencegahan—masih ditemukan kesenjangan yang cukup signifikan. Capaian terapi pencegahan TBC (TPT) baru mencapai 2 persen, jauh di bawah target nasional sebesar 60 persen. Selain itu, penemuan kasus TBC juga masih berada di bawah target, yang berpotensi menyebabkan rantai penularan terus berlanjut di masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menyatakan bahwa capaian ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat strategi ke depan.
“Keberhasilan pengobatan yang sudah sangat baik harus diimbangi dengan penguatan deteksi dini dan upaya pencegahan. Fokus ke depan adalah memperluas skrining, meningkatkan investigasi kontak, serta memperkuat peran masyarakat dalam pengendalian TBC,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci dalam percepatan eliminasi TBC. Peran kader kesehatan, pemerintah desa, serta lintas sektor sangat dibutuhkan untuk menjangkau kelompok rentan dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Penanggulangan TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak. Dengan sinergi yang kuat, kita optimistis target eliminasi TBC dapat tercapai,” tambahnya.
Melalui penguatan program yang terintegrasi, termasuk pemanfaatan layanan CKG dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas, sekaligus menekan angka penularan penyakit menular, khususnya tuberkulosis. (Adv/Rls)







