MENGGALI KEDALAMAN SANG TELAGA

Napak Tilas Perjalanan Gurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA di Mamuju

Pagi itu, langit Mamuju seakan membuka pintunya lebih lebar dari biasanya.

Cahaya matahari perlahan menembus sela-sela awan, menyinari jalan yang kami lalui menuju Bandara Tampa Padang. Ada perasaan yang sulit dijelaskan—antara bahagia, haru, dan sebuah rasa syukur yang dalam.

Kami bergegas menuju bandara.

Bukan sekadar menjemput seorang pejabat negara.

Bukan pula sekadar menyambut seorang Menteri Agama Republik Indonesia.

Hari itu, kami hendak menyambut seorang ulama yang selama ini kami kenal melalui keluasan ilmu, kelembutan tutur, dan keteduhan nasihatnya.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Bagi kami di Mamuju, kedatangannya bukan sekadar sebuah kunjungan kerja. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Seolah sebuah telaga ilmu yang selama ini jauh dari pandangan mata, hari itu datang mendekat, membawa air kesejukan bagi tanah Sulawesi Barat.

Ketika rombongan beliau tiba, pandangan pertama kami langsung tertuju pada sosoknya.

Wajah itu teduh.

Tidak tampak gurat kesibukan seorang menteri yang hampir setiap hari berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak terlihat kelelahan yang biasanya menyertai perjalanan panjang.

Yang tampak justru ketenangan.

Senyum yang sederhana.

Dan pancaran wajah yang menghadirkan rasa nyaman bagi siapa saja yang berada di dekatnya.

Saya terdiam sejenak.

Dalam hati terlintas sebuah pertanyaan:

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu tinggi kedudukannya tetap terlihat begitu rendah hati?

Mungkin, jawabannya ada pada kedalaman ilmu.

Sebab semakin dalam sebuah telaga, semakin tenang permukaannya.

Begitulah kesan pertama saya terhadap Gurutta.

—

Perjalanan yang Menjadi Pelajaran

Sepanjang perjalanan hari itu, kami mendampingi beliau dari satu agenda ke agenda berikutnya.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Beliau sedang menjalankan puasa Senin.

Namun tidak sedikit pun tampak wajah lelah.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada bahasa tubuh yang menunjukkan keberatan.

Beliau tetap tersenyum, tetap menyapa, tetap berdialog, dan tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kesabaran.

Saya kembali merenung.

Barangkali, bagi sebagian orang, puasa hanya berarti menahan lapar dan dahaga.

Namun bagi orang-orang yang telah menjadikan spiritualitas sebagai jalan hidup, puasa mungkin telah berubah menjadi sumber kekuatan.

Tubuh boleh lapar.

Tetapi hati justru kenyang.

Kenyang oleh dzikir.

Kenyang oleh syukur.

Kenyang oleh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Di sepanjang perjalanan itu, saya mulai memahami bahwa ada pelajaran yang tidak selalu disampaikan melalui ceramah.

Ada ilmu yang hadir melalui sikap.

Ada nasihat yang tidak membutuhkan kata-kata.

Dan hari itu, Gurutta mengajarkan sesuatu hanya dengan ketenangan dan kesederhanaannya.

—

Dari Mamuju, Kami Belajar Tentang Keteladanan

Mamuju hari itu terasa berbeda.

Kedatangan Gurutta menjadi sebuah momentum yang mempertemukan banyak hati.

Para ulama, tokoh agama, pemerintah, para santri, ASN, masyarakat, dan generasi muda datang dengan harapan masing-masing.

Ada yang ingin mendengar tausiyah.

Ada yang ingin bersalaman.

Ada yang ingin menyampaikan doa.

Dan mungkin ada pula yang hanya ingin melihat dari dekat sosok yang selama ini mereka kenal melalui tulisan, ceramah, dan berbagai karya pemikirannya.

Namun pada akhirnya, semuanya menemukan sesuatu yang sama:

keteladanan.

Sebab terkadang kita tidak membutuhkan ceramah yang panjang untuk berubah.

Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang kehidupannya mengingatkan kita kepada Tuhan.

—

Sang Telaga

Dalam perjalanan itu, saya teringat sebuah perumpamaan sederhana.

Ilmu adalah seperti telaga.

Kita dapat mengambil air dari permukaannya, tetapi tidak akan pernah mengetahui seluruh kedalamannya.

Semakin banyak kita mengambil, semakin kita sadar bahwa masih begitu luas bagian yang belum kita ketahui.

Begitu pula sosok Gurutta.

Kami mungkin hanya mengenal beliau dari tausiyahnya.

Dari tulisan-tulisannya.

Dari pemikirannya.

Dari jabatan yang diembannya.

Namun dua hari berada dekat dengan beliau memberi kesan yang berbeda.

Kami melihat seorang ulama yang tetap menjaga kesederhanaan di tengah kemuliaan.

Seorang guru yang tetap rendah hati di tengah keluasan ilmu.

Seorang pejabat negara yang tetap menunjukkan wajah seorang santri.

Dan seorang manusia yang tampak berusaha menjaga hubungannya dengan Allah dalam setiap langkah kehidupannya.

Mungkin itulah kedalaman sebuah telaga.

Permukaannya tenang.

Tetapi di bawahnya tersimpan kehidupan yang begitu luas.

—

Napak Tilas yang Tidak Akan Hilang

Kunjungan Gurutta ke Mamuju akhirnya bukan hanya menjadi catatan perjalanan seorang Menteri Agama.

Bagi kami yang mendampinginya, perjalanan itu berubah menjadi napak tilas batin.

Kami belajar bahwa ilmu tidak selalu membuat seseorang terlihat tinggi.

Justru ilmu yang benar akan membuat seseorang semakin rendah hati.

Kami belajar bahwa kedudukan tidak harus membuat seseorang berjarak.

Dan kami belajar bahwa kesalehan tidak harus dipertontonkan.

Ia cukup terlihat dari cara seseorang berbicara, tersenyum, berjalan, menghargai orang lain, dan menjalankan amanah.

Hari itu, di tanah Mamuju, kami seperti sedang berdiri di tepian sebuah telaga.

Kami mengambil sedikit airnya.

Merasakan kesejukannya.

Namun kami sadar, kedalamannya belum mampu kami ukur.

Karena itu, perjalanan dua hari bersama Gurutta bukanlah akhir dari sebuah perjumpaan.

Ia justru menjadi awal dari sebuah perenungan:

Sudah sejauh mana ilmu yang kita miliki mampu menenangkan hati?

Sudah sedalam apa iman yang kita tanam mampu menjadi kekuatan dalam kehidupan?

Dan yang paling penting:

Sudahkah ilmu membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin akan terus tinggal dalam hati kami.

Sebab ada pertemuan yang selesai ketika seseorang kembali ke tempat asalnya.

Tetapi ada pula pertemuan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Ia menetap dalam ingatan.

Menjadi inspirasi.

Menjadi doa.

Dan menjadi kerinduan untuk kembali menimba ilmu dari telaga yang sama.

Terima kasih, Gurutta.

Dua hari di Mamuju mungkin singkat bagi sebuah perjalanan.

Tetapi bagi kami, ia cukup untuk meninggalkan jejak yang panjang.

Jejak seorang ulama.

Jejak seorang guru.

Jejak seorang negarawan.

Dan terutama, jejak seorang hamba yang berusaha berjalan dalam keteduhan ilmu dan keikhlasan.

Mamuju menjadi saksi.

Bahwa pada suatu pagi yang cerah, kami pernah menjemput seorang ulama.

Namun sesungguhnya, yang kami temukan bukan hanya seorang tamu yang datang ke tanah Mandar.

Kami menemukan sebuah telaga.

Telaga ilmu.

Telaga hikmah.

Telaga keteladanan.

Dan semakin kami mencoba menggali kedalamannya, semakin kami menyadari:

ilmu yang luas selalu membuat hati semakin tawadhu.

— Mamuju, 21–22 September 2026.

H. Makdoem Ibrahim ( Ketua Ikakas Kab. Mamuju )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *