Disadari atau tidak, fenomena salat Istisqa di zaman modern menunjukkan fakta bahwa kebanyakan umat Islam tidak bisa memilah mana urusan vertikal dan mana urusan horisontal.
Minta hujan itu urusan horisontal karena itu urusan dunia. Dan ketika teknologi sudah berkembang, ada ikhtiar yang wajib dilakukan sebelum berdoa.
Doa itu bersifat “meningkatkan peluang”. Boleh dilakukan, namun tidak boleh meninggalkan ikhtiar. Beda dengan dulu yang tak bisa mendatangkan hujan, sekarang teknologi sudah bisa membuat hujan buatan dengan rekayasa cuaca.
Maka melakukan salat Istisqa tanpa melakukan rekayasa cuaca itu namanya berdoa tanpa ikhtiar.
Dulu tidak masalah salat Istisqa tanpa ikhtiar karena orang dulu memang tidak tahu bagaimana ikhtiar mendatangkan hujan. Tapi kalau sekarang, salat Istisqa tanpa merekayasa cuaca itu jadi terlihat konyol.
Sama persis seperti orang bugis tinggal di Belawa lalu berdoa agar menguasai bahasa Korea tanpa melakukan kursus bahasa Korea atau pindah hidup dengan orang Korea.
Dunia itu terus berkembang, beragama pun harus mengikuti zaman.
Di zaman dulu, sakit gigi pun ada doanya ( supaya tidak terasa sakit ). Tapi zaman sekarang, jika ada orang sakit gigi karena giginya berlobang lalu hanya berdoa tanpa pergi ke dokter gigi, itu jelas seperti orang bodoh.
Bagi saya, doa itu wajib didahului dengan ikhtiar. Jika jalan ikhtiar sudah ada, maka hanya orang bodoh yang berdoa tanpa ikhtiar.
Tanpa ikhtiar, semua doa yang kita panjatkan bisa percuma. Termasuk yang melakukan salat Istisqa..
Wallahu A’lam bi Shawab






