Dulu, Imam shalat dikampung, sebelum memulai shalat sang Imam menengok kebelakang, sembari meminta jamaah merapikan shaf, Imam shalat juga melihat satu persatu jamaahnya. Jangan sampai ada kyai atau ulama yang lebih alim dari sang Imam kemudian berdiri dibarisan makmum.
Pun demikian dalam pemilihan pemimpin sebuah organisasi. Yg ‘alim – pun segan mengambil peran sebagai pemimpin /ketua dimana ada yang lebih ‘alim. Saling mempersilahkan untuk memimpin, sampai kemudian disepakati diantara mereka semuanya, kyai ini saja atau bapak ini saja.
Yg terjadi hari ini,
Imam Shalat dikampung adalah orang yang paling “percaya diri ” dengan kemampuannya, “merasa” paling alim, paling fasih. Tidak perlu lagi menengok kebelakang. Mungkin seandainya di jajaran makmumnya ada gurutta sekalipun, juga tidak diindahkan š¤
( Sejujurnya saya pernah menegur seorang imam shalat di masjid kampung, saya tepuk pundaknya dan saya bilang. ” Dek dibelakang ada kyai ” baru beliau ngeh dan mempersilahkan sang kyai memimpin shalat meski awalnya sang kyai menolak)
Di kepemimpinan organisasi juga hal ini terjadi. Dimana organisasi memiliki “standart” pemimpin yang ideal setidaknya yang seperti ini, menguasai ini, setidaknya seperti beliau beliau yang pernah memimpin dimasa lalu dst. Yang terjadi saat ini adalah perebutan kepentingan, perebutan ambisi, perebutan pengakuan diri, deklarasi “ana ahsan minhu”, atau “ana khoirun minhu” dst
Wallahu A’lam Bi Shawab.












