La Saing bukan orang kaya.
Hartanya hanya tiga: satu masjid kayu yang atapnya bocor, satu petak sawah seluas 30 are, dan sembilan piring seng di rumah panggungnya.
Setiap Subuh, sebelum azan, La Saing sudah di sawah. Sarungnya dilipat sampai lutut. Kakinya masuk ke lumpur yang dingin. Ia menanam bukan hanya untuk sembilan anaknya, tapi untuk satu kampung.
Istrinya sudah lama dipanggil Allah. Sejak itu, periuk di dapurnya sering lebih banyak ubinya daripada nasinya.
Pernah suatu musim, padinya dimakan tikus. Gagal panen.
Hari itu Jumat. Atap masjid bocor. Kotak amal kosong. Di rumah, anaknya yang keempat demam.
Selepas Jumatan, La Saing duduk sendiri di mimbar yang berderit. Tidak ada yang tahu, Imam yang selalu tegar itu menunduk dan berbisik,
“Ya Allah, saya ini Imam, tapi saya bahkan tidak bisa memberi makan ummat kecilku di rumah.”
Tiba-tiba seorang nenek janda mendekat. Bukan uang yang ia berikan. Ia selipkan dua ikat kangkung ke tangan La Saing.
“Untuk anak-anak ta, Imam.”
La Saing menangis. Bukan karena sedih, tapi karena malu. Selama ini ia pikir ummatnya pelit. Ternyata ummatnya juga sama susahnya dengan dia.
Sejak hari itu, La Saing mengubah segalanya.
Ia tidak lagi menunggu jamaah datang ke masjid. Ia yang datang ke sawah mereka. Ia bantu mencangkul, sambil mengaji pelan-pelan. Ia tidak lagi ceramah tentang dosa, ia ceramah sambil membagi bibit padi.
Petak sawahnya yang kecil itu ia beri nama: SAWAH MADRASAH.
Ia bagi hasilnya jadi tiga.
Sepertiga untuk sembilan anaknya.
Sepertiga untuk anak-anak yatim yang mengaji di masjid.
Sepertiga ia jual, untuk beli seng baru atap masjid yang bocor.
Orang kampung tertawa, “Gila. Sawah sempit begitu mau dibagi tiga, habis nanti, Imam.”
La Saing hanya tersenyum. Ia kumpulkan anak-anak muda yang mau merantau dan berkata,
“Nak, kita tidak sedang menanam padi. Kita sedang menanam pahala. Setiap bulir yang dimakan anak yatim, itu jadi doa untuk bapakmu kelak.”
Panen berikutnya, ajaib.
Sawah 30 are itu menghasilkan padi dua kali lipat. Bukan karena pupuk. Tapi karena yang memanennya bukan lagi satu orang, tapi satu kampung. Sembilan anaknya, janda-janda tua, anak-anak yatim, semua turun ke lumpur bersama.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sembilan piring seng di rumah La Saing terisi penuh. Nasi putih hangat mengepul.
Di masjid, atapnya sudah tidak bocor lagi.
La Saing duduk di antara sembilan anaknya, melihat masjidnya yang terang dari kejauhan. Ia baru paham.
Allah tidak pernah memberinya sawah yang luas. Allah memberinya ummat yang luas.
Dan cinta seorang Imam, ternyata tidak diukur dari kerasnya suaranya di mimbar, tapi dari seberapa ikhlas ia membagi sepetak sawah terakhirnya untuk orang lain.
—
Selesai.







