MAMUJU, SOROTANPENA.ID – Sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi berbagai situasi kedaruratan, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Daerah (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat menggelar Pelatihan Gizi Bencana Tingkat Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2026 di Hotel De Shanum Mamuju, 12–16 Juni 2026.
Kegiatan ini diikuti tenaga pelaksana gizi dan tenaga kesehatan dari seluruh kabupaten di Sulawesi Barat. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan dalam menghadapi bencana sekaligus melindungi kelompok rentan dari risiko gangguan gizi dan penyakit.
Pelaksanaan pelatihan sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, khususnya dalam mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, tangguh, dan berkualitas.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa Sulawesi Barat merupakan daerah yang memiliki potensi risiko bencana sehingga membutuhkan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi memadai dalam penanganan gizi pada situasi darurat.
“Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya harus mendapatkan perlindungan optimal saat terjadi bencana. Karena itu, kapasitas tenaga kesehatan perlu terus diperkuat agar mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional,” ujar dr. Nursyamsi.
Menurutnya, penanganan gizi dalam kondisi bencana memiliki peran strategis untuk mencegah munculnya berbagai masalah kesehatan yang dapat memperburuk kondisi masyarakat terdampak.
Ia menjelaskan, masalah gizi memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah penyakit menular, termasuk Tuberkulosis (TBC). Kondisi gizi yang buruk dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi TBC, sementara penyakit TBC dapat memperburuk status gizi penderitanya sehingga membentuk siklus yang saling memengaruhi.
“Dalam situasi bencana, risiko tersebut dapat meningkat akibat terganggunya akses terhadap pangan bergizi, pelayanan kesehatan, dan dukungan sosial. Karena itu, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan gizi bencana juga menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan eliminasi TBC di Sulawesi Barat,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, dr. Nursyamsi juga memperkenalkan inovasi GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi Tuberkulosis) sebagai pendekatan berbasis masyarakat yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk mempercepat eliminasi TBC melalui penguatan peran desa, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Ia menambahkan, nilai-nilai kearifan lokal Mandar seperti Sipamandar (saling menguatkan), Siwaliparri’ (gotong royong), dan Siasayanggi (saling menyayangi) menjadi fondasi penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana maupun berbagai tantangan kesehatan.
Melalui pelatihan ini, peserta dibekali berbagai materi terkait surveilans gizi, identifikasi kelompok rentan, pengelolaan bantuan pangan, edukasi kesehatan, hingga penguatan koordinasi lintas sektor dalam penanganan keadaan darurat.
DKPPKB Sulbar berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan tenaga kesehatan yang semakin profesional, responsif, dan siap menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat saat terjadi bencana, sekaligus mendukung terwujudnya Sulawesi Barat yang maju dan sejahtera. (Adv/Rls)











