MAMUJU, SOROTANPENA.ID — Kolaborasi lintas sektor, akses pembiayaan, dan penguatan regulasi menjadi sorotan dalam dialog khusus “Ekraf Sulbar Naik Kelas: Dari Potensi Lokal Menuju Panggung Dunia” yang digelar TVRI Sulawesi Barat melalui program Bincang Malaqbi.
Dialog tersebut menghadirkan Sekretaris Dispoparekraf Sulbar Andi Saiful Rauf, Koordinator Daerah Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Sulbar Ivannandar Iskandar, pendiri Pitu Sinema Production Sadly Azis, serta Wakil Pimpinan Bidang Bisnis KCU BPD Sulselbar Mamuju Supriadi Saleh.
Ivannandar menilai Sulawesi Barat memiliki potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar nasional hingga global. Potensi itu antara lain tenun Sekomandi dan Sa’be Mandar, kuliner, film, serta fotografi.
Menurutnya, pengembangan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan melalui pendekatan hexahelix dan prinsip 3C, yakni collaboration, connection, dan commercialization: kolaborasi, konektivitas, dan komersialisasi.
“Pengembangan ekonomi kreatif tidak bisa lagi berjalan secara sendiri-sendiri atau sektoral. Kunci utama agar produk dan karya anak muda Sulbar bisa bersaing di panggung dunia adalah kolaborasi lintas sektor, konektivitas jejaring nasional, serta komersialisasi karya yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi para pelakunya,” tegas Ivannandar.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan berbasis aset komunitas atau Asset-Based Community Development (ABCD). Pendekatan ini menempatkan kebudayaan, kearifan lokal, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat sebagai modal pengembangan daerah.
Dari sisi pemerintah, Andi Saiful Rauf menyambut baik sinergi antarpemangku kepentingan. Ia menyampaikan komitmen pemerintah provinsi untuk mendukung ruang pertumbuhan industri kreatif agar pelaku dan produk lokal semakin berdaya saing.
Sementara itu, Supriadi Saleh menyampaikan kesiapan BPD Sulselbar mendukung akses permodalan, inklusi keuangan, dan literasi bisnis bagi pelaku UMKM serta kreator lokal. Dukungan tersebut diharapkan membantu pelaku mengembangkan usaha yang berkelanjutan dan memenuhi kelayakan pembiayaan.
Sadly Azis menyoroti kekayaan cerita lokal Sulbar sebagai kekuatan industri film dan audiovisual. Menurutnya, potensi tersebut dapat diangkat ke tingkat nasional dengan dukungan infrastruktur, kemudahan perizinan, serta pendampingan berkelanjutan.
Dialog ini juga mengemukakan perlunya Peraturan Daerah tentang Ekonomi Kreatif sebagai landasan pengembangan sektor tersebut. Para narasumber turut mendorong penguatan kelembagaan, termasuk pembentukan dinas khusus ekonomi kreatif, agar pengelolaan potensi daerah lebih terarah dan terintegrasi.
Dukungan regulasi, kelembagaan, jejaring, dan pembiayaan diharapkan membuka peluang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif Sulbar, mulai dari tingkat desa hingga terhubung dengan Kementerian Ekonomi Kreatif RI dan pasar internasional.









