GARATTA TBC Dongkrak Capaian Penanganan Tuberkulosis di Desa Lokus Sulawesi Barat

MAKASSAR, SOROTANPENA.ID – Inovasi GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu dalam Penanggulangan Tuberkulosis) menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan capaian penanganan Tuberkulosis (TBC) di sejumlah desa lokus di Provinsi Sulawesi Barat.

Keberhasilan tersebut dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Hj. Nursyamsi Rahim, saat Seminar dan Pameran Implementasi Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Pemerintahan (Pusjar SKMP) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar, Rabu (29/7/2026).

Dalam presentasinya, dr. Nursyamsi menjelaskan bahwa GARATTA TBC dikembangkan sebagai strategi transformasi penanggulangan tuberkulosis dari pendekatan yang berpusat pada fasilitas pelayanan kesehatan menjadi gerakan aktif berbasis masyarakat.

Melalui inovasi tersebut, masyarakat, kader kesehatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga lintas sektor dilibatkan secara terpadu dalam penemuan kasus aktif, investigasi kontak, pendampingan pasien, edukasi, serta pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Ia mengungkapkan, sebelum GARATTA TBC diterapkan, capaian program di sejumlah desa lokus masih berada di bawah target. Berdasarkan data tahun 2025, penemuan kasus TBC di Desa Palipi Soreang baru mencapai 63 persen, Desa Bonde 22 persen, dan Desa Bonde Utara 55 persen. Sementara itu, cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di ketiga desa tersebut masih 0 persen.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya pendekatan baru yang menempatkan desa sebagai pusat aksi penanggulangan TBC melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Dalam implementasinya, GARATTA TBC mengintegrasikan berbagai kegiatan, mulai dari skrining aktif di masyarakat, investigasi kontak erat, pendampingan pasien hingga tuntas menjalani pengobatan, pengurangan stigma terhadap penderita TBC, hingga penguatan koordinasi lintas sektor.

Pemerintah desa, kader kesehatan, Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta Bhabinkamtibmas menjadi bagian penting dalam menggerakkan program tersebut di tingkat komunitas.

Menurut dr. Nursyamsi, keberhasilan GARATTA TBC tidak hanya diukur dari meningkatnya indikator program, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi tuberkulosis.

“GARATTA TBC adalah gerakan kolaboratif yang mengubah cara kita menangani Tuberkulosis. Penanggulangan TBC tidak lagi menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan semata, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat, pemerintah desa, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan semangat gotong royong, kita dapat mempercepat eliminasi TBC di Sulawesi Barat,” ujar dr. Nursyamsi.

Ia menambahkan, GARATTA TBC dirancang sebagai model penanggulangan tuberkulosis berbasis komunitas yang adaptif dan berkelanjutan. Program ini mengoptimalkan potensi desa melalui penguatan kader kesehatan, integrasi lintas sektor, serta dukungan pembiayaan dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD).

Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di seluruh kabupaten di Sulawesi Barat sebagai strategi percepatan pencapaian target Eliminasi Tuberkulosis 2030.

Implementasi GARATTA TBC juga mendukung visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, khususnya Panca Daya ke-3, yakni mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter melalui penguatan pelayanan kesehatan yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (Adv/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *