DKPPKB Sulbar Siapkan Inovasi GARATTA TBC untuk Perkuat Penanggulangan Berbasis Komunitas

Mamuju, SorotanPena.Id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) menyiapkan inovasi GARATTA TBC sebagai strategi baru penanggulangan tuberkulosis berbasis komunitas.

Program yang merupakan singkatan dari Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu dalam Penanggulangan Tuberkulosis itu diperkenalkan Kepala DKPPKB Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, dalam Pertemuan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKN) Tahun 2025 di Hotel Aflah, Mamuju, Senin, 11 Mei 2026.

Menurut Nursyamsi, pendekatan penanggulangan TBC selama ini masih didominasi layanan berbasis fasilitas kesehatan dan belum optimal menjangkau masyarakat secara langsung. Karena itu, GARATTA TBC dirancang untuk mengubah pola penanganan menjadi lebih aktif dengan melibatkan desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga keluarga pasien.

“Penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan layanan kesehatan. Harus ada gerakan bersama agar penemuan kasus, pengobatan, dan pencegahan berjalan lebih efektif,” ujar Nursyamsi.

Data DKPPKB Sulbar mencatat, penemuan kasus TBC di Sulawesi Barat pada 2025 baru mencapai 4.037 kasus atau sekitar 80 persen dari estimasi 5.051 kasus. Sementara angka keberhasilan pengobatan tercatat 88 persen dari target 90 persen, dan cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) baru mencapai 10 persen dari target 72 persen.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam deteksi dini dan upaya pencegahan penyakit menular itu di masyarakat.

Melalui GARATTA TBC, pemerintah daerah akan mendorong skrining aktif di tingkat desa dan kelurahan, investigasi kontak erat pasien, pendampingan pengobatan, hingga edukasi untuk mengurangi stigma terhadap penderita TBC.

Program ini juga menempatkan desa sebagai pusat aksi penanggulangan TBC dengan dukungan lintas sektor.

Nursyamsi menjelaskan, istilah “GARATTA” diambil dari kata lokal garattaq yang bermakna dorongan kuat atau seruan untuk bergerak bersama. Nilai budaya lokal tersebut diharapkan mampu membangun partisipasi masyarakat dalam memerangi TBC.

“GARATTA TBC bukan sekadar program kesehatan, tetapi gerakan sosial untuk membangun kesadaran bahwa TBC bisa ditemukan, diobati, dan disembuhkan,” katanya.

DKPPKB Sulbar menargetkan inovasi tersebut mampu meningkatkan penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, dan cakupan terapi pencegahan TBC secara signifikan, sekaligus mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2030.

Program itu juga disebut sejalan dengan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Pemerintah Pusat serta Panca Daya ke-3 Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia unggul dan berkarakter. (Adv/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *