MAMUJU, SOROTANPENA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan membawa partikel dan zat pencemar yang dapat menurunkan kualitas udara serta masuk ke saluran pernapasan.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap karhutla, terutama ketika kualitas udara mulai menurun.
Kepala DKPPKB Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, mengatakan paparan asap karhutla dapat menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi yang membutuhkan penanganan medis.
“Paparan asap dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari iritasi hidung, batuk dan pilek, tenggorokan terasa perih, mata merah dan berair, hingga sesak atau kesulitan bernapas. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi paparan asap dan segera mendapatkan pelayanan kesehatan jika mengalami keluhan yang semakin berat,” ujar Nursyamsi.
Nursyamsi menekankan, kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki asma, penyakit paru, maupun penyakit jantung.
Paparan asap dalam waktu tertentu dapat memperburuk kondisi kesehatan kelompok tersebut. Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak asap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menghindari sumber asap sebisa mungkin.
DKPPKB Sulbar juga meminta masyarakat mengenali tanda bahaya akibat paparan asap. Beberapa kondisi yang perlu segera mendapatkan perhatian medis antara lain sesak berat, sulit bernapas, nyeri dada, anak tampak lemas, atau kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
“Jika muncul tanda-tanda tersebut, jangan menunggu kondisi menjadi lebih berat. Segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan,” tegasnya.
Selain melindungi diri dari paparan asap, DKPPKB Sulbar mengajak masyarakat ikut mencegah terjadinya karhutla dengan tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan.
Menurut Nursyamsi, pencegahan karhutla merupakan bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat karena kualitas udara yang baik sangat berkaitan dengan kesehatan saluran pernapasan.
Masyarakat juga diimbau mengurangi paparan asap, menggunakan masker ketika diperlukan, menjaga sirkulasi udara di lingkungan tempat tinggal, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan kesehatan.
“Menjaga kesehatan akibat dampak karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan. Semua pihak memiliki peran dalam mencegah karhutla dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat,” katanya.
DKPPKB Sulawesi Barat terus mendorong penguatan promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat terkait dampak paparan asap karhutla.
Nursyamsi mengatakan perlindungan kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
“Pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah kabupaten, dan masyarakat harus bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan. Dengan kolaborasi tersebut, dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan,” ujarnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka dalam mendukung terwujudnya Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera, termasuk melalui lingkungan yang lebih sehat dan masyarakat yang semakin terlindungi. (Adv/Rls)






