MAMUJU, SOROTANPENA.ID – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat mendorong pengelola promosi kesehatan (Promkes) untuk semakin adaptif menghadapi perubahan pola komunikasi masyarakat di era digital.
Dorongan tersebut disampaikan melalui kegiatan Sharing Session Promkes Sulbar yang digelar Tim Kerja Promosi Kesehatan, Kesehatan Komunitas dan Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan DKPPKB Sulbar secara daring, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut diikuti para pengelola Promkes dari Dinas Kesehatan kabupaten serta Puskesmas se-Sulawesi Barat. Forum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman dan praktik baik dalam pelaksanaan promosi kesehatan di tingkat kabupaten dan Puskesmas.
Selain memperkuat kapasitas pengelola Promkes, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong lahirnya inovasi dalam penyampaian informasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Hadir sebagai narasumber, Wahyudi, Tenaga Promosi Kesehatan Puskesmas Banggae 1 Kabupaten Majene. Ia berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan Promosi Kesehatan di tingkat Puskesmas, termasuk pendekatan yang dapat diterapkan dalam menjangkau masyarakat.
Kegiatan dipandu Muh. Saleh, selaku moderator sekaligus Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan, Kesehatan Komunitas dan Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat.
Dalam forum tersebut, pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu perhatian utama. Pengelola Promkes didorong untuk memanfaatkan berbagai platform digital sebagai sarana edukasi, komunikasi dan penyebarluasan informasi kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, mengatakan penguatan Promkes perlu dilakukan secara berkelanjutan seiring perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola komunikasi masyarakat.
“Promosi kesehatan tidak hanya bagaimana kita menyampaikan informasi kesehatan, tetapi bagaimana informasi tersebut dapat diterima, dipahami, dan mendorong masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Karena itu, pengelola Promkes harus terus berinovasi dan memanfaatkan berbagai media komunikasi yang tersedia,” ujar Nursyamsi.
Menurutnya, digitalisasi membuka peluang bagi tenaga kesehatan untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan. Namun, pemanfaatan teknologi harus tetap dibarengi dengan kualitas pesan, ketepatan informasi, serta kemampuan memahami karakteristik masyarakat sebagai sasaran komunikasi.
“Sharing session seperti ini penting untuk membangun budaya belajar dan berbagi praktik baik. Apa yang berhasil dilakukan di satu puskesmas dapat menjadi inspirasi bagi puskesmas lainnya, tentunya dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” tambahnya.
Ia menambahkan, komunikasi kesehatan yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya informasi yang disebarluaskan. Pesan kesehatan harus dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta disampaikan melalui media yang sesuai dengan karakteristik sasaran.
Penguatan komunikasi kesehatan tersebut sejalan dengan arah pembangunan Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, yang mendorong pemanfaatan teknologi dan digitalisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, termasuk di sektor kesehatan.
Melalui Sharing Session Promkes Sulbar, DKPPKB berharap jejaring pengelola Promkes di tingkat provinsi, kabupaten dan Puskesmas semakin kuat. Pertukaran pengalaman dan praktik baik diharapkan mampu melahirkan inovasi komunikasi kesehatan yang efektif, kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan pelayanan kesehatan yang semakin dekat dengan masyarakat serta mendukung terwujudnya Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera. (Adv/Rls)








