MAMUJU, SOROTANPENA.ID – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit yang berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) dan wabah. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas petugas serta pelibatan kader dan masyarakat.
Penguatan tersebut dilaksanakan melalui Workshop Penguatan Kader/Masyarakat dalam Kewaspadaan Dini Penyakit Potensial KLB/Wabah bagi petugas tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan Puskesmas se-Sulawesi Barat. Kegiatan berlangsung di Hotel Matos Mamuju pada 28–30 September 2026 melalui dukungan kerja sama strategis antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat (US-CDC) dalam memperkuat sistem kesehatan serta penanggulangan penyakit di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) di Sulawesi Barat. Selain itu, kegiatan tersebut juga memperkuat koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Puskesmas, kader, dan masyarakat dalam mendeteksi penyakit menular maupun kejadian lain yang berpotensi berkembang menjadi KLB atau wabah.
Ketua Tim Kerja Surveilans Kewaspadaan Dini Kementerian Kesehatan RI, Endah Kusumowardani, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan SKDR di Sulawesi Barat. Dalam kegiatan tersebut, Endah menyampaikan bahwa kinerja SKDR Provinsi Sulawesi Barat merupakan yang terbaik di Indonesia.
Capaian tersebut menjadi modal penting untuk terus memperkuat sistem deteksi dan respons kesehatan masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi dorongan agar kualitas pelaporan, kewaspadaan, serta tindak lanjut terhadap sinyal penyakit dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa kewaspadaan dini membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, bukan hanya tenaga kesehatan.
“Kewaspadaan dini merupakan kerja bersama. Petugas kesehatan, kader, pemerintah desa, dan masyarakat memiliki peran penting dalam mengenali gejala maupun kejadian yang berpotensi menjadi masalah kesehatan sejak awal, sehingga dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti,” ujar dr. Nursyamsi Rahim.
Menurutnya, penguatan kapasitas kader dan masyarakat sangat penting karena mereka berada paling dekat dengan lingkungan serta masyarakat yang menjadi sasaran pelayanan kesehatan.
Selain memperkuat SKDR, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk meningkatkan pelaksanaan imunisasi di Provinsi Sulawesi Barat sebagai salah satu upaya melindungi masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Penguatan kewaspadaan dini dan imunisasi diharapkan dapat berjalan beriringan. Sistem deteksi yang baik memungkinkan potensi masalah kesehatan diketahui lebih cepat, sementara upaya pencegahan melalui imunisasi terus diperkuat untuk meningkatkan perlindungan masyarakat.
Upaya tersebut sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, khususnya dalam memperkuat kualitas pembangunan kesehatan dan perlindungan masyarakat. (Adv/Rls)












