MAJENE, SOROTANPENA.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menetapkan tiga desa pesisir di Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, sebagai lokasi percontohan pelaksanaan GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi TBC), sebuah inovasi berbasis budaya lokal untuk mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC).
Ketiga desa tersebut yakni Desa Bonde, Desa Bonde Utara, dan Desa Palipi Soreang. Melalui program ini, pemerintah berupaya memperkuat penemuan kasus TBC, meningkatkan keberhasilan pengobatan, sekaligus menghapus stigma yang masih melekat terhadap penderita TBC di masyarakat.
Program GARATTA TBC yang digagas Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Daerah (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, resmi diluncurkan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, di Dapur Mandar, Kecamatan Pamboang, Jumat (19/6/2026).
Peluncuran tersebut turut dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan, Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Setda Majene Mustamin, Ketua TP PKK Kabupaten Majene Hj. Najmah B. Fattah, para camat, kepala puskesmas, kepala desa, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat.
Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana, menilai GARATTA TBC merupakan inovasi yang tepat dalam menjawab tantangan pengendalian TBC yang hingga kini masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Sulawesi Barat.
Menurutnya, upaya penanggulangan TBC tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Penanganan TBC tidak cukup hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat agar kasus dapat ditemukan lebih cepat dan pasien mendapatkan pendampingan hingga sembuh,” kata Junda.
Ia menambahkan, program tersebut sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, terutama dalam mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas.
Sementara itu, Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TBC bukan hanya keterbatasan penemuan kasus, tetapi juga stigma sosial yang masih dialami penderita.
“Masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri atau bahkan menyembunyikan penyakitnya karena takut dikucilkan. Akibatnya, kasus terlambat ditemukan dan penularan terus terjadi di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, GARATTA TBC dirancang sebagai gerakan kolaboratif yang melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga keluarga pasien.
Keunikan program ini terletak pada pengintegrasian nilai-nilai budaya Mandar sebagai fondasi gerakan. Nilai Sipamandar mengajarkan semangat saling menguatkan, Siwaliparri’ menanamkan gotong royong, Siasayanggi mengedepankan kepedulian terhadap sesama, Siri’ menjaga martabat manusia, dan To Malaqbi’ menekankan keteladanan pemimpin dalam menggerakkan perubahan sosial.
“Melalui pendekatan budaya ini, kami ingin menghapus stigma terhadap TBC dan menjadikan masyarakat sebagai bagian dari solusi. Ketika masyarakat bergerak bersama, penemuan kasus akan meningkat dan pasien dapat didampingi hingga sembuh,” jelas dr. Nursyamsi.
Pemerintah Kabupaten Majene menyambut positif penetapan tiga desa pesisir tersebut sebagai lokasi implementasi awal GARATTA TBC.
Asisten I Setda Majene, Mustamin, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh pelaksanaan program tersebut agar dapat menjadi model pengendalian TBC berbasis masyarakat yang dapat diterapkan di wilayah lain.
“Kami berharap tiga desa ini menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam mempercepat eliminasi TBC,” ungkapnya.
Melalui tagline “Temukan Harapan, Antarkan Kesembuhan”, GARATTA TBC diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta memperkuat gerakan masyarakat menuju Sulawesi Barat bebas Tuberkulosis. (Adv/Rls)












