Mamuju, SorotanPena. Id – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, membuka Rapat Sosialisasi Tim Penggerak Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat Provinsi Sulawesi Barat yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Forum Koordinasi Pemerintah Daerah, pimpinan instansi vertikal, kepala perangkat daerah, mitra pembangunan, akademisi, hingga organisasi profesi sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam penguatan kesehatan jiwa masyarakat.
Dalam sambutannya, Junda Maulana menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam mewujudkan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka melalui implementasi Panca Daya pembangunan. Salah satu pilar utamanya adalah menghadirkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
“Kita semua memahami bahwa kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kesehatan mental, ketangguhan emosional, dan karakter sosial. Tanpa itu, pembangunan tidak akan memiliki fondasi yang kokoh,” ujar Junda Maulana.
Ia mengakui bahwa berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari peningkatan akses pendidikan, penguatan layanan kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Namun, tantangan kesehatan mental, khususnya pada generasi muda, menjadi isu yang semakin mendesak untuk ditangani secara serius.
Mengacu pada Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Sekda mengungkapkan bahwa kelompok usia 15–24 tahun merupakan kelompok dengan prevalensi depresi tertinggi. Secara nasional, prevalensi depresi mencapai 1,4 persen dan cenderung meningkat pada usia produktif. Lebih memprihatinkan, individu dengan depresi memiliki risiko hingga 36 kali lebih besar untuk memiliki pikiran mengakhiri hidup dibandingkan mereka yang tidak mengalami depresi.
“Temuan ini bukan sekadar angka, tetapi alarm bagi kita semua,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menekankan pentingnya penguatan pendekatan lintas sektor dan berbasis masyarakat dalam penanganan kesehatan jiwa.
Menurutnya, pembentukan dan optimalisasi TPKJM merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan intervensi hingga ke tingkat komunitas.
“Ini bukan sekadar program, tetapi sebuah gerakan bersama. Kita membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari dunia pendidikan untuk membangun ketahanan mental sejak dini, sektor kesehatan untuk memperkuat deteksi dini dan layanan, pemerintah desa dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang suportif, hingga tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menghapus stigma,” jelasnya. (Adv/Rls)







