Pemprov Sulbar Luncurkan Destana Berbasis Kolaborasi, Perkuat Ketangguhan Masyarakat dan Kesiapsiagaan Kesehatan Hadapi Bencana

MAJENE, SOROTANPENA.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana melalui peluncuran Desa Tangguh Bencana (Destana) Berbasis Kolaborasi. Program yang diinisiasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat tersebut secara resmi diluncurkan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, di Dapur Mandar, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Selasa (30/6/2026).

Peluncuran ini dihadiri jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, sebagai bentuk komitmen pemerintah memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana di Sulawesi Barat.

Dalam sambutannya, Sekda Sulbar Junda Maulana menegaskan, pembentukan Destana merupakan langkah strategis mengingat Sulawesi Barat termasuk daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, hingga banjir. Pengalaman gempa besar yang melanda Mamuju dan Majene pada 2021 menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi.

“Bencana memang tidak bisa kita hindari, tetapi kita bisa mempersiapkan diri agar dampaknya dapat diminimalkan. Karena itu, masyarakat harus menjadi bagian utama dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana,” ujar Junda.

Ia menjelaskan, Destana Berbasis Kolaborasi dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kolaborasi, kesiapsiagaan, dan gotong royong. Melalui konsep tersebut, seluruh elemen, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kabupaten, hingga pemerintah provinsi, didorong untuk bekerja bersama membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh dan berkelanjutan.

“Semangat gotong royong harus terus kita hidupkan. Penanggulangan bencana tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau masyarakat semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama demi melindungi keselamatan warga,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menilai penguatan Desa Tangguh Bencana memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan, khususnya pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan pada kondisi darurat maupun krisis kesehatan.

Menurutnya, sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling rentan terdampak ketika bencana terjadi. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat melalui Destana akan mendukung sistem kesehatan agar tetap mampu memberikan pelayanan secara optimal di tengah situasi darurat.

“Kesehatan merupakan salah satu sektor yang paling terdampak ketika bencana terjadi. Karena itu, penguatan Destana menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan sistem kesehatan daerah. Masyarakat yang tangguh akan lebih siap menghadapi situasi darurat, sehingga pelayanan kesehatan tetap dapat berjalan dan risiko kesakitan maupun kematian dapat ditekan,” kata dr. Nursyamsi.

Ia menambahkan, DKPPKB Sulbar terus memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, puskesmas, serta jejaring layanan kesehatan agar mampu merespons cepat berbagai potensi krisis kesehatan pascabencana, mulai dari peningkatan penyakit menular, gangguan kesehatan ibu dan anak, masalah gizi, hingga layanan kesehatan jiwa bagi para penyintas.

Dr. Nursyamsi menegaskan bahwa keberhasilan membangun desa tangguh tidak dapat dipisahkan dari kolaborasi lintas sektor. Karena itu, DKPPKB Sulbar siap bersinergi dengan BPBD, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, serta seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan setiap desa memiliki kapasitas menghadapi keadaan darurat secara mandiri.

Peluncuran Destana Berbasis Kolaborasi menjadi salah satu implementasi visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Melalui penguatan kapasitas masyarakat, kesiapsiagaan layanan kesehatan, dan semangat gotong royong, pemerintah berharap setiap desa mampu menjadi garda terdepan dalam mengurangi risiko bencana sekaligus melindungi keselamatan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (Adv/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *