Setiap kali bulan Agustus datang, hati kami selalu teringat pada cerita almarhum orang tua tentang masa penjajahan.
Beliau bercerita dengan mata yang berkaca-kaca: tentang anak-anak yang kehilangan pelukan ayah dan ibunya, tentang suami yang harus meninggalkan istri, dan tentang keluarga yang berpisah tanpa tahu kapan akan bertemu kembali.
Mereka hidup dalam ketakutan.
Mereka menahan lapar.
Mereka kehilangan orang-orang tercinta.
Tetapi mereka tetap bertahan.
Karena ada satu impian yang lebih besar dari rasa takut mereka:
INDONESIA MERDEKA.
Kini, kita berdiri di tanah yang sama dalam suasana yang jauh berbeda. Merah Putih berkibar bebas, anak-anak dapat belajar, keluarga dapat berkumpul, dan kita dapat menjalani hidup tanpa bayang-bayang penjajahan.
Namun, jangan pernah lupa…
Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini mungkin adalah air mata yang dulu mereka perjuangkan.
Almarhum orang tua kami telah tiada, tetapi kisahnya tetap hidup dalam ingatan.
Setiap kibaran Merah Putih mengingatkan kami pada mereka yang pernah berpisah, menunggu, menangis, dan bahkan gugur demi sebuah kata:
MERDEKA.
Untuk mereka yang telah pergi,
untuk orang tua kami yang telah tiada,
dan untuk seluruh pejuang kemerdekaan…
Terima kasih atas pengorbanan yang tidak akan pernah mampu kami balas.
Jangan biarkan kemerdekaan ini menjadi sesuatu yang biasa.
Karena bagi mereka, kemerdekaan adalah harga yang dibayar dengan air mata dan nyawa.
🇮🇩 Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!
(*)







