Ada momen di Mata Najwa yang menurut kami salah satu yang paling menggetarkan dalam sejarah wawancara televisi Indonesia.
Najwa tanya ke Habibie:
masih marahkah Pak Habibie melihat apa yang dulu diperjuangkan begitu banyak anak bangsa kini sepertinya sia-sia?
Dan jawaban Habibie bukan kemarahan.
Bukan kepahitan.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.
“Saya tidak marah.
Kecewa.
Tapi saya tidak mau luangkan waktu dan tenaga saya untuk mengeluh dan menyalahkan siapa saja.”
Konteksnya dulu apa yang sebenarnya dihancurkan:
N250 bukan sekadar pesawat.
Ini adalah proyek kebanggaan yang Habibie bangun dari nol selama puluhan tahun.
Waktu itu sudah 48.000 orang bekerja di industri strategis ini.
Kontrak ekspor sudah ditandatangani.
Pesawat sudah terbang perdana dengan sempurna.
Progress sudah mencapai 80% menuju sertifikasi penuh.
Dan tiba-tiba diperintahkan berhenti.
Siapa yang memerintahkan?
Bukan Pak Harto secara langsung.
Pak Harto yang menandatangani perjanjian dengan IMF.
Tapi di balik itu IMF yang datang ke Indonesia membawa satu syarat:
kalau mau dibantu keluar dari krisis 1998,
industri-industri strategis itu harus dibubarkan.
Termasuk IPTN industri pesawat yang membanggakan itu.
“Yang melaksanakan itu adalah IMF.
Kalau IMF datang kemari,
dia mengatakan mau bantu,
tapi harus matikan perusahaan-perusahaan itu.”
Dan Habibie tahu konsekuensinya tapi tetap menolak:
Ini yang paling gue kagumi.
Habibie bukan orang yang tidak tahu situasinya.
Dia tahu persis kondisi Indonesia saat itu:
inflasi tinggi, suku bunga melonjak, rupiah anjlok dari Rp2.000 ke Rp16.000 bahkan menuju Rp20.000. Rakyat antri makanan. Orang kelaparan.
Dan di tengah kondisi itu ada yang datang menawarkan solusi dengan syarat: bunuh mimpi bangsa ini.
Habibie menolak.
Bahkan ketika kemudian dia menjadi Presiden dan punya kekuasaan tertinggi untuk membuka kembali industri itu dia tidak melakukannya.
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena dia menghitung dengan kepala dingin bahwa kondisinya belum memungkinkan dan memaksakan itu di tengah krisis hanya akan menambah beban rakyat yang sudah menderita.
“Andaikata saya laksanakan itu saya akan menghadapi inflasi tinggi, suku bunga tinggi, nilai rupiah anjlok.
Yang lebih penting dari pesawat terbang adalah orang antri makanan.”
Ini bukan kekalahan.
Ini adalah keputusan seorang negarawan yang menempatkan kepentingan rakyat di atas ego dan warisan pribadinya.
Yang paling menyentuh dari seluruh wawancara ini:
Habibie membangun N250 bukan untuk dirinya sendiri. Dia sudah mapan.
Dia bisa saja tetap tinggal di Jerman,
menikmati karir gemilang di MBB, hidup sebagai insinyur kelas dunia yang dihormati seluruh Eropa.
Tapi dia memilih pulang.
Memilih membangun.
Memilih menuangkan seluruh ilmu dan hidupnya untuk bangsa yang bahkan belum tentu menghargainya.
“Saya mulai dengan 20 orang.
Waktu saya jadi Menteri, saya serahkan industri strategis 48.000 orang.
Ton over fighter dollar untuk negara.
Itu yang telah saya berikan kepada bangsa ini.”
Dan ketika semua itu dihancurkan dia tidak meminta apa-apa kembali.
Tidak menuntut pengakuan.
Tidak mengeluarkan kepahitan.
Dia hanya bilang: “Lihat dari sudut positifnya.”
Habibie adalah bukti bahwa nasionalisme sejati bukan soal teriak-teriak di jalanan atau benci negara lain.
Nasionalisme sejati adalah ketika seseorang yang sudah punya segalanya ilmu, karir, nama besar, kehidupan nyaman di luar negeri — memilih pulang dan membangun.
Memilih melayani.
Dan ketika apa yang dibangunnya dihancurkan oleh tekanan asing dia tidak hancur.
Dia tidak menyerah. Dia hanya berkata dengan tenang: ini sudah saya berikan kepada bangsa ini.
Berapa banyak pemimpin hari ini yang bisa berkata hal yang sama?








