Membangun Masa Depan Mamuju: Mencari Identitas Kota Melalui Integrasi Perikanan dan Pariwisata

Oleh: Ivannandar Iskandar Koordinator Daerah ICCN Sulawesi Barat / Mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Ekonomi Universitas Muslim Indonesia.

Banyak kota di Indonesia telah berhasil “menemukan dirinya” dan menjual keunikan tersebut kepada dunia. Kita mengenal Ambon dengan harmoni “City of Music”, Bandung dengan energi “City of Design”, hingga Pekalongan yang mendunia melalui “City of Crafts and Folk Art (Batik)”. Identitas ini bukan sekadar stempel di atas kertas; ia adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang menggerakkan setiap sendi kehidupan masyarakatnya.

Lalu, bagaimana dengan Mamuju?

Sebagai mahasiswa yang saat ini tengah menyusun thesis berjudul “Analisis Ekonomi Keberlanjutan Masyarakat Pesisir: Studi tentang Konvergensi Sektor Perikanan dan Pariwisata di Kabupaten Mamuju”, saya melihat sebuah peluang emas yang seringkali terlewatkan. Sebelum kita bicara jauh mengenai transformasi Mamuju menjadi Kota Madya secara administratif, ada hal yang jauh lebih krusial untuk kita bangun terlebih dahulu: Identitas Kota.

Konvergensi: Ketika Jaring Nelayan Bertemu Industri Pariwisata

Penelitian saya menekankan pada konsep Konvergensi. Selama ini, sektor perikanan dan pariwisata di Mamuju sering dianggap sebagai dua kutub yang berbeda. Nelayan bekerja di laut untuk mencari ikan, sementara pelaku wisata sibuk dengan tamu dan pemandangan.

Padahal, masa depan ekonomi keberlanjutan Mamuju terletak pada titik temu keduanya. Inilah yang disebut dengan ekosistem “Blue Economy”. Bayangkan sebuah kawasan di mana dermaga perikanan bukan hanya tempat bongkar muat, tapi juga ruang publik kreatif, pusat kuliner fresh seafood berstandar global, dan laboratorium edukasi bahari. Di sana, kesejahteraan nelayan tidak hanya bergantung pada harga pasar ikan, tapi juga pada nilai tambah dari kunjungan wisatawan.

Angin Segar: Manakarra Fair Masuk KEN 2026

Langkah menuju kota kreatif semakin nyata dengan sebuah kabar membanggakan: Manakarra Fair dari Kabupaten Mamuju berhasil masuk dalam Top 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pencapaian ini menempatkan festival tersebut sebagai salah satu event unggulan nasional yang menonjolkan promosi UMKM, seni pertunjukan, dan budaya local. Sebagai bagian dari jejaring kreatif, saya sangat mengapresiasi pencapaian ini.

Masuknya Manakarra Fair ke dalam kalender nasional bukan hanya soal seremonial. Ini adalah validasi bahwa Mamuju memiliki daya tarik kreatif. Namun, tantangan besarnya adalah bagaimana mengintegrasikan kemeriahan festival ini dengan sektor riil pesisir. Festival jangan hanya menjadi panggung hiburan yang lewat begitu saja, tapi harus menjadi etalase inovasi produk olahan hasil laut dan ajang promosi bagi warisan bahari kita, seperti Sandeq Silumba.

Sandeq Silumba bukan sekadar lomba perahu. Ia adalah mahakarya teknologi bahari Mandar yang tidak dimiliki daerah lain. Jika dikelola dengan konsep sport tourism yang matang, ia bisa menjadi magnet dunia sebagaimana ajang balap internasional, namun dengan kearifan lokal yang kental.

Data BPS: Modalitas yang Luar Biasa

Potensi ini bukan sekadar bualan tanpa dasar. Jika kita menilik data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka-angka berbicara dengan jujur tentang kekayaan kita:

  • Sektor Perikanan: Produksi perikanan tangkap di Mamuju adalah salah satu yang tertinggi di Sulawesi Barat. Komoditas Tuna, Cakalang, dan Tongkol (TCT) kita adalah primadona pasar.
  • Aset Pariwisata: Kita memiliki Pulau Karampuang, permata di depan mata yang aksesnya hanya hitungan menit dari jantung kota. Ini adalah keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki ibu kota provinsi lain.
  • Struktur Ekonomi: Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi PDRB Kabupaten Mamuju. Artinya, ekonomi kita berakar di alam. Tugas kita adalah memberikan sentuhan “Kreativitas” agar akar ini tidak hanya bertahan, tapi tumbuh menjadi pohon industri yang rindang.

Strategi Hexahelix: Kolaborasi Tanpa Batas

Mewujudkan visi “Mamuju Kota Kreatif Bahari” tentu bukan tugas pemerintah sendirian. Melalui peran saya di Indonesian Creative Cities Network (ICCN), saya selalu menekankan pentingnya kolaborasi Hexahelix. Untuk mencapai tujuan yang sama, enam pilar harus bergerak serentak:

  1. Pemerintah: Sebagai pembuat kebijakan dan penyedia infrastruktur.
  2. Akademisi: Memberikan landasan ilmiah dan riset inovasi (peran yang tengah saya jalankan melalui thesis ini).
  3. Pelaku Usaha: Menggerakkan roda ekonomi dari hulu ke hilir.
  4. Komunitas: Simpul-simpul kreatif yang menghidupkan napas kota.
  5. Media: Juru bicara yang memperkenalkan potensi kita ke kancah global.
  6. Agregator/Filantropi: Pendampingan modal dan teknologi bagi masyarakat pesisir.

Belajar dari Dunia: Dari Desa Nelayan Menjadi Destinasi Global

Kita bisa mengambil pelajaran dari Henningsvær di Norwegia. Sebuah desa nelayan kecil yang tetap mempertahankan aktivitas perikanannya, namun sukses menyulap infrastruktur tua menjadi galeri seni dan restoran kelas atas. Atau yang lebih dekat, Banyuwangi, yang bertransformasi dari daerah “transit” menjadi daerah “tujuan” melalui festival yang terintegrasi dengan potensi alam.

Penutup: Apa Ikon Kita?

Sebagai penutup, saya ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat Mamuju untuk mulai berpikir. Sebelum kita resmi menjadi Kota Madya, mari kita sepakati apa identitas kita.

Jika Ambon bangga dengan musiknya, Bandung dengan desainnya, dan Pekalongan dengan batiknya, maka Mamuju harus bangga dengan Kekayaan Lautnya yang Kreatif.

Menurut Anda, simbol apa yang paling pantas mewakili wajah Mamuju di mata dunia? Apakah Perahu Sandeq yang tangguh menantang arus? Ataukah Ikan Tuna yang menjadi simbol kemakmuran nelayan kita? Atau Pulau Karampuang yang menjadi wajah keramahan wisata kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *