Polman,SorotanPena.Id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat upaya pengendalian penyakit menular sebagai bagian dari pembangunan kesehatan daerah. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat melaksanakan kegiatan Supervisi Monitoring dan Evaluasi Program Malaria di Kabupaten Polewali Mandar, Rabu (12/3/2026).
Kegiatan ini sejalan dengan upaya mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter sesuai Panca Daya ke-3 Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.
Supervisi dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar serta UPTD Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kabupaten Polewali Mandar oleh Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Program Malaria Provinsi Sulawesi Barat.
Kegiatan tersebut bertujuan memastikan pelaksanaan program pengendalian malaria berjalan optimal sekaligus memperkuat upaya mempertahankan status eliminasi malaria di daerah.
Monitoring program pengendalian malaria difokuskan pada upaya menuju eliminasi malaria secara menyeluruh dan terpadu yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, mitra pembangunan, serta masyarakat.
Secara nasional, Indonesia menargetkan eliminasi malaria dapat tercapai di seluruh wilayah pada tahun 2030. Upaya ini dilakukan secara bertahap melalui beberapa fase, yakni tahap pemberantasan, pra-eliminasi, eliminasi, hingga tahap pemeliharaan guna memastikan wilayah yang telah bebas malaria tetap mempertahankan status tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menyampaikan bahwa capaian eliminasi malaria di Provinsi Sulawesi Barat hingga saat ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik.
“Di Provinsi Sulawesi Barat, dari enam kabupaten yang ada, lima kabupaten telah memperoleh sertifikasi eliminasi malaria. Untuk Kabupaten Polewali Mandar sendiri telah mendapatkan Sertifikat Eliminasi Malaria sejak tahun 2015,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa status eliminasi malaria harus terus dijaga melalui berbagai langkah kewaspadaan, salah satunya dengan meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium dalam mendukung penegakan diagnosis malaria secara akurat.
Menurutnya, kualitas pelayanan laboratorium malaria sangat menentukan ketepatan diagnosis dan sangat bergantung pada kompetensi serta kinerja tenaga laboratorium di setiap jenjang fasilitas pelayanan kesehatan.
Karena itu, penguatan sistem laboratorium pemeriksaan malaria terus dilakukan melalui pengembangan jejaring serta pemantapan mutu laboratorium, mulai dari tingkat puskesmas, rumah sakit, hingga laboratorium rujukan uji silang di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. (Adv/Rls)









