DKPPKB Sulbar Perkuat Eliminasi TBC Melalui Pengembangan Desa Siaga di Majene

Majene, SorotanPena.Id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Daerah (DKPPKB) terus memperkuat upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC) berbasis masyarakat sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pertemuan Koordinasi Pengembangan Desa Siaga TBC Kabupaten Majene yang digelar pada 12 Mei 2026 di Kabupaten Majene.

Kegiatan ini dihadiri unsur Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Majene, kepala puskesmas lokus, pengelola program TBC, pengelola promosi kesehatan, serta para kepala desa dari wilayah yang akan dikembangkan sebagai Desa Siaga TBC.

Pertemuan dibuka Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pengendalian TBC tidak cukup hanya mengandalkan layanan fasilitas kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat hingga tingkat desa.

Menurutnya, desa menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menemukan kasus lebih dini, memastikan pengobatan tuntas, serta menghapus stigma terhadap penderita TBC yang masih menjadi tantangan dalam upaya eliminasi penyakit tersebut.

“Persoalan terbesar kita hari ini bukan hanya soal menemukan dan mengobati pasien, tetapi juga melawan stigma. Banyak penderita yang terlambat memeriksakan diri karena takut dikucilkan. Inilah mengapa desa harus hadir sebagai ruang aman yang mendukung, bukan menghakimi. Ketika masyarakat bergerak bersama, maka TBC bisa kita kendalikan,” ujar Nursyamsi Rahim.

Dalam kesempatan itu, Nursyamsi juga memperkenalkan konsep GARATTA TBC, inovasi pendekatan penguatan Desa Siaga TBC yang dikembangkan DKPPKB Sulbar sebagai model kolaborasi lintas sektor berbasis kearifan lokal.

Konsep GARATTA TBC menekankan semangat gotong royong masyarakat Sulawesi Barat dalam upaya pencegahan, penemuan kasus aktif, pendampingan pengobatan, hingga penghapusan stigma melalui keterlibatan seluruh elemen desa, mulai pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga keluarga pasien.

Selain itu, GARATTA TBC juga mendorong penguatan layanan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah, kontak erat, dan kelompok berisiko lainnya.

Peningkatan cakupan TPT menjadi salah satu fokus utama program tersebut. Data tahun 2025 menunjukkan capaian TPT di Sulawesi Barat baru sekitar 10 persen dari target nasional sebesar 72 persen.

Kondisi tersebut dinilai menjadi indikator masih besarnya tantangan dalam memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan sebelum berkembang menjadi kasus aktif.

“Kita tidak boleh hanya fokus mengobati yang sudah sakit. Kita harus mencegah mereka yang berisiko agar tidak jatuh sakit. Rendahnya capaian terapi pencegahan TBC menjadi alarm bagi kita semua. GARATTA TBC hadir untuk memastikan desa ikut aktif menemukan kontak erat, mendampingi, mengedukasi keluarga, dan memastikan terapi pencegahan berjalan optimal,” tegasnya.

Ia menambahkan, GARATTA TBC bukan sekadar program kesehatan, tetapi juga gerakan sosial masyarakat Sulawesi Barat yang menghidupkan kembali nilai kebersamaan dalam menjaga kesehatan warga desa.

“GARATTA TBC adalah semangat bersama untuk saling menjaga. Ini bukan sekadar program kesehatan, tetapi gerakan sosial masyarakat Sulawesi Barat untuk melindungi sesama dari TBC. Kita ingin desa menjadi pelopor perubahan, tempat lahirnya solidaritas dan kepedulian terhadap kesehatan bersama,” tambahnya.

Melalui pertemuan tersebut, seluruh peserta menyatakan komitmen untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengembangan Desa Siaga TBC di Kabupaten Majene guna membentuk ekosistem desa yang responsif terhadap penanggulangan TBC. (Adv/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *