Harapan saya, suatu saat tak ada lagi perbedaan penentuan awal puasa atau lebaran. Karena itu efeknya jauh lebih buruk dirasakan umat dibanding besarnya gengsi mempertahankan teori yang kita anggap benar.
Tak peduli siapa yang mengalah. PBNU atau PP Muhammadiyah, bagi saya justru yang mengalah itu yang lebih hebat. Mau pakai hisab atau rukyat, silakan saja. Keduanya jelas punya landasan dalil yang sama-sama kuat.
SAYA YAKIN, jika PP Muhammadiyah mengalah dan mengikuti keputusan PBNU memakai rukyat, maka semua orang Muhammadiyah TIDAK BERDOSA.
SAYA YAKIN, jika PBNU mengalah dan mengikuti keputusan PP Muhammadiyah memakai hisab, maka semua orang NU juga TIDAK BERDOSA.
Keputusan menentukan awal bulan ini (oleh ulama) tidak seberat masalah tauhid yang bisa berakibat dosa, apalagi menggugurkan keislaman.
Mengalah dan menerima pendapat orang lain untuk dijalankan secara bersama DEMI ISLAM, bagi saya lebih penting daripada mempertahankan ego dan gengsi organisasi.
Mengubah keputusan tentang awal bulan seperti ini adalah sesuatu yang ringan. Seringan ketika orang Muhammadiyah menjadi jamaah Salat Subuh dengan imam dari orang NU. Ikut baca qunut tak menjadikan orang itu otomatis keluar Muhammadiyah.
Seringan ketika orang NU ikut Salat Tarawih di masjid Muhammadiyah yang cuma 8 rakaat. Tidak berarti orang itu otomatis keluar NU.
Seperti halnya orang NU yang sedang pergi ke negara yang ternyata di negara itu menganut hisab, apakah orang NU itu memaksakan diri harus melihat hilal?
Berada di sebuah negara, ya kita ngikut saja sama otoritas muslim yang ada di situ.
Lalu di Indonesia itu, yang bisa memengaruhi pemerintah (otoritas tertinggi) ya 2 ormas ini utamanya. Kenapa keduanya harus ngotot mempertahankan pendapatnya?
Kalau Menag-nya Muhammadiyah, pemerintah ikut Muhammadiyah. Kalau Menag-nya NU, pemerintah ikut NU. Kenapa harus begitu?
Dalam banyak hal, perbedaan itu indah. Namun perbedaan hari untuk awal Ramadan dan Idul Fitri, percayalah, itu tidak indah.
Mempertahankan pendapat ini sebenarnya ingin mempertahankan kebenaran atau hanya ingin mempertahankan status organisasi yang ilmu agamanya lebih tinggi dari yang lain?
Mempertahankan pendapat ini dilakukan demi agama Islam atau sebenarnya hanya demi gengsi ormas?
H. Makdoem Ibrahim.
( Muballigh Butiran Debu )













