MAJENE, SOROTANPENA.ID – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat implementasi GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi Tuberkulosis) sebagai strategi percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC). Penguatan program dilakukan melalui pendampingan intensif di Puskesmas Pamboang bersama tiga desa lokus implementasi GARATTA TBC, yakni Desa Bonde, Desa Bonde Utara, dan Desa Palipi Soreang, Selasa (30/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II yang digagas Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim. Program ini juga mendukung visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, khususnya dalam memperkuat layanan kesehatan primer dan mempercepat eliminasi TBC melalui kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa.
Dalam pertemuan tersebut, tim DKPPKB Sulbar melakukan evaluasi terhadap capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di tiga desa lokus. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa pelaksanaan TPT selama periode Januari hingga April 2026 masih relatif rendah. Namun, setelah peluncuran GARATTA TBC pada 19 Juni 2026, capaian program meningkat secara signifikan.
Berdasarkan data Semester I Tahun 2026, sebanyak 23 orang telah menerima TPT. Dari jumlah tersebut, 95,7 persen direalisasikan pada bulan Juni, menunjukkan percepatan investigasi kontak dan pemberian terapi pencegahan setelah implementasi GARATTA TBC.
Desa Bonde Utara mencatat capaian tertinggi dengan 16 penerima TPT, disusul Desa Bonde sebanyak 4 orang, dan Desa Palipi Soreang sebanyak 3 orang.
Selain mengevaluasi capaian program, rapat juga menyepakati sejumlah langkah strategis untuk memperkuat implementasi GARATTA TBC. Di antaranya memperluas investigasi kontak terhadap seluruh kontak serumah pasien TBC, memastikan seluruh kontak yang memenuhi syarat segera memperoleh TPT sesuai pedoman nasional, memperkuat koordinasi antara puskesmas, pustu, pemerintah desa, kader kesehatan, dan Bhabinkamtibmas, serta meningkatkan monitoring melalui Dashboard Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa pendampingan lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan implementasi GARATTA TBC berjalan efektif dan mencapai target yang telah ditetapkan.
“GARATTA TBC bukan hanya sebuah gerakan, tetapi model kolaborasi yang mengintegrasikan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, dan masyarakat dalam mempercepat eliminasi TBC. Pendampingan seperti ini penting untuk memastikan setiap kontak pasien dapat ditemukan, diskrining, dan memperoleh Terapi Pencegahan Tuberkulosis secara tepat,” ujar dr. Nursyamsi Rahim.
Ia menambahkan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa penguatan kolaborasi lintas sektor mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan capaian program di lapangan.
“Lonjakan capaian TPT setelah peluncuran GARATTA TBC menjadi bukti bahwa koordinasi yang kuat antar pemangku kepentingan mampu mempercepat penemuan kontak, investigasi, hingga pemberian terapi pencegahan. Model ini akan terus kami perluas agar seluruh kabupaten di Sulawesi Barat memiliki kapasitas yang sama dalam mempercepat eliminasi TBC,” tambahnya.
Melalui pendampingan berkelanjutan di desa-desa lokus, DKPPKB Sulbar optimistis percepatan eliminasi Tuberkulosis di Sulawesi Barat akan semakin efektif. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan layanan TBC yang lebih aktif, cepat, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung terwujudnya Sulawesi Barat yang maju dan sejahtera. (Adv/Rls)






