MAMASA, 8 November 2025 – Sekira 50 orang pendeta dari berbagai denominasi gereja di Kabupaten Mamasa berkumpul di Aula Hotel Matana 2 Mamasa pada Sabtu, 8 November 2025, untuk mengikuti kegiatan bertema “Membuat Naskah Khotbah Menyenangkan.” Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para pelayan Tuhan dalam menulis dan menyusun naskah khotbah yang inspiratif.
Ketua Panitia, Muh Andry Jamal, dalam laporannya menyampaikan, kegiatan ini didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pendeta dalam menulis dan menyusun naskah khotbah yang inspiratif. Selain itu, kami juga ingin mendorong penyampaian pesan firman yang relevan, menarik, dan mudah diterima jemaat, serta memperkuat jejaring dan komunikasi antarpendeta di wilayah Kabupaten Mamasa,” papar Andri.
Peserta yang berjumlah 50 orang ini merupakan perwakilan pendeta dari berbagai gereja yang ada di Mamasa, menunjukkan semangat kebersamaan lintas denominasi. Acara ini turut dihadiri dan diisi oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya:
H. Ramli, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mamasa. H. Makdum Ibrahim, Analisis Kebijakan Bina Mental dan Spritual Biro Tata Pemerintahan & Kesra Setda Provinsi Sulawesi Barat. PDT. Patiama F Parrang, Ketua Badan Musyawarah Gereja Kabupaten Mamasa.
Dalam sambutan yang dibacakan oleh H. Makdum Ibrahim yang mewakili Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sulbar, Murdanil, ditekankan makna penting kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa seorang pendeta memiliki peran ganda yang krusial.
“Kegiatan yang digelar memiliki makna yang penting karena seorang pendeta bukan hanya penyampai firman Tuhan, tetapi juga seorang penggembala jiwa, pendidik moral, dan penguat spritual umat,” ujarnya.
Ia menambahkan, metode penyampaian khotbah sangat mempengaruhi dampak pesan yang diterima jemaat: “Khotbah yang disampaikan dengan cara yang menyenangkan, penuh kasih, dan membangun, akan mampu menyentuh hati jemaat, menumbuhkan semangat pelayanan, serta menghadirkan damai di tengah-tengah kehidupan masyarakat,” sambungnya.
H. Makdum juga meyakini, ketika para pemuka agama mampu menyampaikan pesan-pesan spiritual dengan cara yang menggembirakan dan memotivasi, maka akan lahir masyarakat yang lebih toleran, berempati dan saling menghargai.
Antusiasme peserta sangat tinggi. Beberapa di antara mereka menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat berkesinambungan. Mereka mengaku bahwa kegiatan seperti ini sangat jarang digelar, padahal sangat dibutuhkan untuk mendukung tugas-tugas pelayanan pastoral. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kualitas khotbah, dan pada akhirnya, memperkaya kehidupan spiritual jemaat di Kabupaten Mamasa. (fir)





