Kaizen Perkuat Literasi Digital di Sulbar, Sasar Pelajar hingga ASN

Mamuju, SorotanPena.Id — Kaizen Collaborative Impact memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi digital di Sulawesi Barat melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulbar di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka.

Program yang merupakan inisiatif ASEAN Foundation dan Google.org ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pendidik, pelaku UMKM, hingga aparatur sipil negara (ASN).

Direktur Eksekutif Yayasan Kaizen Collaborative Impact, Ismita Saputri, mengatakan program tersebut telah berjalan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulbar dengan fokus pada peningkatan kecakapan digital siswa dan guru.

“Sejauh ini kami bekerja sama dengan Disdikbud Sulbar untuk meningkatkan literasi digital pendidik dan peserta didik agar lebih cakap, beretika, dan aman di ruang digital,” ujar Ismita, Sabtu (2/5/2026).

Selain literasi digital, program ini juga menekankan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara bijak.

“Harapannya, generasi muda bisa tumbuh bersama teknologi dan memanfaatkannya secara positif,” tambahnya.

Kerja sama tersebut telah diformalisasi melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pemprov Sulbar. Sejumlah program dijalankan, di antaranya AI Ready ASEAN, AIM ASEAN, dan SCAM Ready ASEAN, yang bertujuan meningkatkan literasi digital serta kapasitas pelaku UMKM.

Dalam dua bulan pelaksanaan, program ini telah menjangkau 70 sekolah di Sulbar dengan total sekitar 26.000 peserta, terdiri dari 24.000 siswa SMA/SMK dan sekitar 2.200 guru.

Program literasi digital bagi pelaku UMKM mulai dilaksanakan pada 2 Mei 2026, dengan fokus pada pemanfaatan teknologi untuk pengembangan usaha. Pemprov Sulbar juga mendorong agar pelatihan serupa menyasar ASN.

Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, menegaskan pentingnya pengembangan sumber daya manusia bagi ASN.

“ASN juga harus mendapat perhatian dalam pengembangan SDM, sama seperti masyarakat. Edukasi harus menyasar ASN,” tegasnya.

Untuk organisasi perangkat daerah (OPD), materi pelatihan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, khususnya dalam pemanfaatan teknologi terkini.

Ismita menambahkan, teknologi AI kini telah digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada aplikasi navigasi digital.

“Yang penting adalah bagaimana teknologi itu digunakan sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Ia menegaskan seluruh program yang dijalankan tidak dipungut biaya dan tidak melibatkan pengambilan data pribadi peserta.

“Program ini gratis, kami tidak menjual produk maupun mengambil data dalam bentuk apa pun,” tegasnya. (Rls/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *