GARATTA TBC Resmi Diluncurkan, Sulbar Bergerak Kejar 3.413 Kasus TBC yang Belum Ditemukan

MAJENE, SOROTANPENA.ID — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat resmi meluncurkan GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi TBC) sebagai inovasi percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) berbasis pemberdayaan masyarakat dan penguatan nilai-nilai budaya lokal Mandar.

Program tersebut diluncurkan di Dapur Mandar, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Jumat (19/6/2026), dan menjadi langkah strategis Pemprov Sulbar dalam memperkuat penemuan kasus, pendampingan pengobatan, serta menghapus stigma terhadap penderita TBC.

Peluncuran GARATTA TBC dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana, Asisten I Bidang Pemerintahan, Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Setda Majene Mustamin, Ketua TP PKK Kabupaten Majene Hj. Najmah B. Fattah, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Daerah (DKPPKB) Sulbar dr. Nursyamsi Rahim, para camat, kepala puskesmas se-Kabupaten Majene, kepala desa lokus, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat.

Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana, mengapresiasi lahirnya GARATTA TBC yang merupakan proyek perubahan Kepala DKPPKB Sulbar. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulbar Suhardi Duka, khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat, unggul, dan berdaya saing.

“GARATTA TBC merupakan inovasi yang sangat relevan dalam menjawab tantangan pengendalian TBC. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga menggerakkan partisipasi masyarakat secara luas,” ujar Junda.

Sementara itu, Kepala DKPPKB Sulbar dr. Nursyamsi Rahim menjelaskan bahwa GARATTA TBC lahir sebagai respons terhadap masih tingginya tantangan penemuan kasus TBC di Sulawesi Barat.

Berdasarkan data per 18 Juni 2026, jumlah kasus TBC yang berhasil ditemukan di Sulawesi Barat baru mencapai 1.589 kasus dari target 5.002 kasus sepanjang tahun 2026. Artinya, masih terdapat sekitar 3.413 kasus yang perlu ditemukan dalam tujuh bulan ke depan.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Majene. Hingga pertengahan Juni 2026, jumlah kasus yang ditemukan baru mencapai 322 kasus dari estimasi 685 kasus TBC. Angka tersebut menunjukkan masih banyak penderita yang belum terdeteksi dan berpotensi belum mendapatkan pengobatan secara optimal.

“Selain penemuan kasus, tantangan terbesar yang kita hadapi adalah stigma terhadap penderita TBC. Banyak masyarakat yang masih takut memeriksakan diri karena khawatir dikucilkan. Karena itu, GARATTA TBC hadir tidak hanya sebagai program kesehatan, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang melibatkan seluruh unsur masyarakat,” kata dr. Nursyamsi.

Ia menjelaskan, GARATTA TBC mengintegrasikan lima nilai budaya Mandar sebagai fondasi gerakan, yakni Sipamandar (saling menguatkan), Siwaliparri’ (gotong royong), Siasayanggi (saling menyayangi), Siri’ (menjaga martabat), dan To Malaqbi’ (keteladanan pemimpin).

Melalui pendekatan budaya tersebut, masyarakat didorong untuk menghapus stigma terhadap penderita TBC, meningkatkan kepedulian sosial, serta bersama-sama mendukung pasien agar menyelesaikan pengobatan hingga sembuh.

Sebagai tahap awal, GARATTA TBC akan diimplementasikan di tiga desa pesisir Kecamatan Pamboang, yakni Desa Bonde, Desa Bonde Utara, dan Desa Palipi Soreang. Ketiga desa tersebut diharapkan menjadi model pengendalian TBC berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di seluruh wilayah Sulawesi Barat.

Mengusung tagline “Temukan Harapan, Antarkan Kesembuhan”, GARATTA TBC diharapkan menjadi gerakan kolektif yang mampu mempercepat eliminasi Tuberkulosis sekaligus mendukung terwujudnya Sulawesi Barat yang lebih sehat, maju, dan sejahtera. (Adv/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *