Hari Pendidikan Nasional kembali hadir, bukan sekadar seremoni tahunan dengan pidato dan upacara, tetapi seharusnya menjadi ruang hening untuk merenung: ke mana arah pendidikan kita hari ini?
Di tengah gegap gempita program dan kebijakan, ada realitas yang tak bisa kita tutupi. Pendidikan, yang seharusnya menjadi fondasi utama pembangunan bangsa, perlahan terasa bergeser dari skala prioritas. Ketika anggaran besar digelontorkan untuk program-program tertentu, kita masih menyaksikan gedung-gedung sekolah yang rapuh, ruang belajar yang nyaris roboh, dan fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak.
Lebih menyayat hati lagi, ketika kita mendengar kabar tentang seorang anak sekolah dasar yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mampu membeli buku dan polpen. Sebuah tragedi yang seharusnya mengguncang nurani kita semua. Di titik ini, kita patut bertanya: apakah sistem pendidikan kita masih berpihak pada kemanusiaan?
Pendidikan sejatinya bukan sekadar tentang memberi makan atau memenuhi kebutuhan fisik semata. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia—membangun akal, membentuk karakter, dan menumbuhkan harapan. Ketika seorang anak kehilangan akses terhadap alat belajar paling dasar, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar, tetapi juga martabat dan masa depan.
Ironisnya, di saat kita berbicara tentang kemajuan teknologi, digitalisasi, dan visi besar Indonesia emas, masih ada anak-anak yang berjuang untuk hal-hal yang sangat mendasar. Ketimpangan ini bukan hanya soal angka dalam laporan, tetapi tentang kehidupan nyata yang terluka.
Hari Pendidikan Nasional tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk kembali menata arah. Bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh sekadar berorientasi pada program yang terlihat besar, tetapi harus menyentuh akar persoalan: pemerataan akses, kelayakan sarana, dan keberpihakan pada mereka yang paling membutuhkan.
Kita semua memiliki tanggung jawab—pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi urusan kemanusiaan. Jika kita masih membiarkan ada anak yang putus asa karena tidak mampu membeli alat tulis, maka kita belum sepenuhnya memahami makna pendidikan itu sendiri.
Di hari yang penuh makna ini, mari kita kembalikan ruh pendidikan pada hakikatnya: memanusiakan manusia. Bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga menghadirkan keadilan, kepedulian, dan harapan bagi setiap anak bangsa.
Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa besar anggaran yang digelontorkan, tetapi dari seberapa banyak anak-anaknya yang bisa tersenyum, belajar, dan bermimpi tanpa rasa takut dan keterbatasan.






