Mamuju, SorotanPena.Id – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat melalui Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) menggelar rapat internal dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan pembinaan Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di lokus PASTI PADU. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 1 April 2026, di ruang kerja Bidang P2KB.
Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Jafar, serta diikuti oleh pejabat fungsional dan staf lingkup Bidang P2KB yang terlibat dalam intervensi program.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam meningkatkan kualitas pembangunan keluarga serta mempercepat penurunan stunting, sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.
Dalam rapat tersebut, dibahas berbagai aspek strategis guna memastikan kesiapan pelaksanaan program di lapangan. Pembahasan meliputi penentuan lokasi yang telah ditetapkan sebagai lokus PASTI PADU, penetapan sasaran kegiatan, penyusunan jadwal pelaksanaan, hingga pembagian tugas tim.
Selain itu, peserta rapat juga mematangkan materi pembinaan yang akan diberikan kepada masyarakat, meliputi pola asuh anak, pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta edukasi pencegahan stunting.
Muh. Jafar menegaskan bahwa Program 1.000 HPK merupakan periode krusial dalam menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan, sehingga intervensi harus dilakukan secara tepat dan terencana.
“Periode 1.000 HPK adalah masa emas yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Karena itu, program ini harus dilaksanakan secara optimal dan terintegrasi,” ujarnya.
Rapat juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program, dengan melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader KB, serta masyarakat.
Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menyukseskan program tersebut.
“Keberhasilan program 1.000 HPK tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada peran aktif masyarakat. Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar intervensi yang dilakukan dapat lebih maksimal dan berdampak luas,” ujarnya.
Ia berharap, melalui kegiatan pembinaan ini, pengetahuan dan keterampilan keluarga—khususnya ibu hamil dan keluarga dengan anak usia di bawah dua tahun—dapat meningkat sehingga mampu memberikan pengasuhan yang optimal.
“Dengan pengasuhan yang tepat pada periode 1.000 HPK, kita dapat mencetak generasi Sulawesi Barat yang sehat, unggul, dan berkarakter,” tutupnya. (Adv/Rls)







