Mamuju, 4 Juli 2025 — Dalam upaya menghidupkan kembali ruang intelektual dan memperkuat daya kritis generasi muda, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju bekerja sama dengan DPD IMM Sulawesi Barat dan IMM Kabupaten Mamuju menggelar kegiatan Bedah Buku bertajuk “Catatan Seorang Demonstran: Masih Relevankah Aktivisme Mahasiswa Hari Ini?”
Acara ini berlangsung di Home Theater Perpustakaan Mamuju pada Jumat, 4 Juli 2025, mulai pukul 14.30 WITA, dengan jumlah peserta terbatas sebanyak 50 orang. Kegiatan ini diinisiasi sebagai refleksi terhadap semangat aktivisme mahasiswa di tengah realitas sosial hari ini, mengacu pada pemikiran dan catatan kehidupan Soe Hok Gie, aktivis dan intelektual muda yang dikenal karena idealisme dan keberpihakannya pada nilai-nilai kemanusiaan.
Hadir sebagai pembedah utama adalah Albar Syam D., Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Barat. Sementara itu, dua penanggap dalam diskusi ini adalah M. Fausan Basir, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju, serta Muh. Zakir Akbar, pemerhati pendidikan dan fasilitator literasi masyarakat.
Dalam sesi diskusi, Albar Syam D. membedah konteks dan isi buku Catatan Seorang Demonstran, serta mengulas bagaimana semangat Gie masih relevan untuk dibaca ulang oleh mahasiswa masa kini. “Di tengah era yang serba cepat dan pragmatis, penting bagi mahasiswa untuk kembali melihat bahwa gerakan berpikir dan bersuara adalah bagian dari tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Kepala Dispusip, M. Fausan Basir, menekankan bahwa kegiatan semacam ini penting untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang kritis dan terbuka. “Kita ingin perpustakaan tidak hanya menjadi tempat baca, tapi menjadi tempat tumbuhnya gagasan, perdebatan, dan kepedulian terhadap masyarakat,” tuturnya dalam sesi tanggapan.
Muh. Zakir Akbar menambahkan bahwa aktivisme mahasiswa hari ini bisa tetap relevan jika didukung oleh kesadaran literasi dan keberpihakan pada masalah riil masyarakat. “Gerakan mahasiswa tanpa basis pengetahuan hanya menjadi riuh, bukan perubahan,” tegasnya.
Kegiatan ini juga disertai pembacaan kutipan reflektif dari buku Gie yang menekankan pentingnya kecerdasan dan kepekaan sosial mahasiswa:
“Yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya, apabila keadaan telah mendesak. Kaum intelegensia yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaan.” – Soe Hok Gie.
kegiatan ini didukung oleh berbagai komunitas literasi seperti Manakarra Book Club, Senyawa, Akar Air Institute, Literacy for Humanity, dan organisasi kepemudaan di Mamuju, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya gagasan dan generasi yang peduli terhadap masa depan negeri.







