MAMUJU — Febrianto Wijaya menjadi satu-satunya pendaftar dalam proses pemilihan Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Sulawesi Barat periode 2026–2030. Ia memiliki latar belakang sebagai mantan pemain, pengelola akademi sepak bola, dan anggota DPRD Kabupaten Mamuju.
Sejak 2018, Febrianto menjabat sebagai Direktur Akademi PSM Makassar yang berbasis di Mamuju. Aktivitasnya berfokus pada pencarian bakat dan pembinaan pemain muda agar dapat bersaing di tingkat profesional.
Sebelum mengelola akademi tersebut, ia mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Mitra Manakarra di Mamuju. SSB itu kemudian diintegrasikan dengan Akademi PSM Makassar di Sulbar untuk membangun jalur pembinaan yang lebih terstruktur.
Pengalaman Febrianto juga mencakup karier sebagai pemain profesional PSM Makassar serta pendidikan sepak bola di akademi VfB Stuttgart, Jerman. Bekal tersebut mendukung keterlibatannya dalam pengembangan talenta muda melalui pencarian bakat dan pendampingan berjenjang.
Selama Febrianto menjabat sebagai direktur akademi, sembilan pemain tercatat masuk atau dipromosikan ke tim senior PSM Makassar. Mereka adalah Edgard Amping, Muhammad Rafli Asrul, Renaldi, Fadel Muhammad, Prince Patrick Kallon, Muhammad Fahri, Muhammad Rifky Maulana, Muhammad Farhan Rahman, dan Firdaus Jufri.
Pembinaan pemain muda PSM juga terhubung dengan perjalanan sejumlah pemain yang mendapat kesempatan memperkuat maupun mengikuti pemusatan latihan tim nasional kelompok umur.
Di antaranya Sulthan Zaky, yang memperkuat Timnas Indonesia saat menjuarai Piala AFF U-16 2022, serta Dimas Adi Prasetyo, penyerang jebolan Akademi PSM Mamuju yang masuk skuad Indonesia untuk Piala Dunia U-17.
Di luar sepak bola, Febrianto merupakan anggota DPRD Kabupaten Mamuju dari Partai Demokrat. Pengalamannya di bidang olahraga dan pemerintahan daerah menjadi bagian dari latar belakangnya dalam mengikuti proses pemilihan Ketua PSSI Sulbar.
Kepengurusan PSSI Sulbar mendatang menghadapi sejumlah pekerjaan, mulai dari penguatan pembinaan usia dini dan kompetisi antarklub hingga peningkatan kualitas pelatih serta perangkat pertandingan. Pembenahan infrastruktur dan tata kelola organisasi juga menjadi kebutuhan bagi pengembangan sepak bola daerah.
Meski menjadi satu-satunya pendaftar, Febrianto belum otomatis ditetapkan sebagai ketua. Proses pemilihan dan penetapan tetap mengikuti mekanisme serta keputusan resmi sesuai ketentuan organisasi. (fir)






